Mendaki gunung selalu menjadi ujian ketahanan, keterampilan, dan semangat manusia. Meskipun setiap gunung memiliki tantangannya sendiri, beberapa puncaknya dipuja karena tingkat kesulitannya yang tinggi, cuaca yang tidak dapat diprediksi, dan tuntutan teknisnya. Berikut ini adalah daftar sepuluh gunung tersulit untuk didaki, yang diurutkan tidak hanya berdasarkan ukuran tetapi juga berdasarkan kisah orang-orang yang telah menaklukkan lerengnya. Raksasa-raksasa yang menjulang tinggi ini mendorong para pendaki hingga batas kemampuan mereka dan memiliki daya tarik yang unik bagi para petualang di seluruh dunia.
1. Gunung Everest – 29.032 kaki
Sebagai gunung tertinggi di dunia, Gunung Everest, yang terletak di sub-rentang Mahalangur Himal di Himalaya, merupakan tujuan utama bagi para pendaki di seluruh dunia. Meskipun populer, mendaki Everest bukanlah hal yang mudah. Ketinggian yang ekstrem, suhu yang sangat dingin, dan cuaca yang tidak dapat diprediksi menjadikannya tantangan yang berat. Satu fakta yang menarik adalah bahwa puncak Everest ditutupi oleh lapisan batu kapur dan fosil laut, sisa-sisa lautan purba yang pernah menutupi wilayah tersebut. Kisah-kisah tentang Sherpa yang menyelamatkan pendaki, serta kisah-kisah tragis dari mereka yang tidak berhasil kembali, menambah mistiknya. Sejarah Everest mencakup pendakian pertamanya oleh Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay pada tahun 1953, sebuah prestasi yang memicu era pendakian gunung modern.
2. K2 – 28.251 kaki
Dikenal sebagai “Gunung Liar”, K2, yang terletak di perbatasan Tiongkok-Pakistan, terkenal karena kesulitan teknis dan tingkat kematian yang tinggi. Lerengnya yang curam, longsoran salju, dan cuaca yang tidak dapat diprediksi telah menjadikannya salah satu puncak paling tangguh di dunia. Tidak seperti Everest, tidak ada rute “mudah” untuk mendaki K2. Pada tahun 1954, ekspedisi Italia yang dipimpin oleh Achille Compagnoni berhasil mendaki K2 untuk pertama kalinya. K2 masih belum didaki selama musim dingin, yang semakin menegaskan reputasinya yang ganas. Punggungan puncak yang tajam dan Bottleneck, bagian berbahaya tepat di bawah puncak, telah merenggut banyak nyawa dan menjadi legenda.
3. Kangchenjunga – 28.169 kaki
Terletak di perbatasan antara Nepal dan India, Kangchenjunga adalah gunung tertinggi ketiga di dunia. Gunung ini juga merupakan salah satu puncak yang paling jarang didaki karena letaknya yang terpencil dan risiko longsor yang tinggi. Masyarakat setempat menganggap gunung ini sakral, dan para pendaki sering berhenti beberapa kaki sebelum mencapai puncak untuk menghormati tradisi. Pendakian pertamanya dilakukan pada tahun 1955 oleh pendaki Inggris Joe Brown dan George Band. Kisah-kisah tentang pendaki yang terpesona oleh alam liar yang luas di sekitar gunung, dipadukan dengan pemandangan lima puncaknya yang menakjubkan, telah menciptakan aura yang hampir mistis.
4. Lhotse – 27.940 kaki
Lhotse, yang terhubung ke Everest melalui South Col, merupakan gunung tertinggi keempat dan menawarkan pendakian yang jauh lebih teknis daripada gunung tetangganya. Dinding esnya, seperti Lhotse Face yang terkenal, menantang bahkan pendaki gunung yang paling berpengalaman sekalipun. Pada tahun 1956, tim Swiss melakukan pendakian pertama yang berhasil. Rute yang kurang dikenal dan lebih sedikit pendaki membuat Lhotse menjadi puncak yang lebih tenang tetapi sama tangguhnya. Kisah-kisah tentang pendaki yang tersesat di bayang-bayang Everest menyoroti tantangan uniknya.
5. Makalu – 27.838 kaki
Berbentuk seperti piramida sempurna, Makalu adalah puncak tertinggi kelima di dunia dan terletak di Nepal. Punggungan yang tajam dan hamparan es yang curam menjadikannya salah satu pendakian tersulit. Keterpencilannya menambah tantangan, karena pendaki harus membawa banyak perlengkapan untuk bertahan hidup selama pendakian. Ekspedisi Prancis yang pertama kali mencapai puncak Makalu pada tahun 1955 dikenang karena kerja sama timnya yang luar biasa. Kisah-kisah tentang satwa liar dataran tinggi, seperti macan tutul salju yang sulit ditangkap, menambah unsur keajaiban pada puncak ini.
6. Cho Oyu – 26.864 kaki
Sering dianggap sebagai salah satu puncak 8.000 meter yang “mudah”, Cho Oyu tetap menghadirkan tantangan dengan ketinggiannya yang tinggi dan cuaca yang tidak dapat diprediksi. Terletak di perbatasan Nepal-Tibet, puncak ini pertama kali didaki oleh tim Austria pada tahun 1954. Meskipun menarik lebih banyak pendaki daripada yang lain dalam daftar ini, banyak yang tidak siap menghadapi kondisinya yang keras. Keindahan Cho Oyu yang tenang namun menakutkan telah menginspirasi banyak kisah tentang kegigihan dan kemenangan.
7. Dhaulagiri – 26.795 kaki
“Gunung Putih,” Dhaulagiri, menonjol dengan keterpencilannya yang mencolok dan lereng-lereng besar yang tertutup salju. Terletak di Nepal, gunung ini pertama kali didaki pada tahun 1960 oleh tim Swiss-Austria-Nepal. Longsoran saljunya terkenal, dan para pendaki sering menceritakan kesunyian yang mencekam sebelum bencana melanda. Sejarah gunung ini kaya dengan kisah-kisah tentang upaya awal yang gagal, yang membuat penaklukannya pada akhirnya semakin dirayakan.